30 Agustus 2008

The Amazing Women (Bayangan Di Jendela itu Part 3)


Siapa bilang kalau jalan bertiga, dan sudah direstui, bisa bikin hati tenang?, walaupun jarak kedua pacar gue jauh. Toh, gak membuat hati gue nyaman. Apalagi kalo gue lagi berdua sama yang di Jakarta, pasti Hape gue pegang terus. Takut, terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sesuatu yang buruk akan gue minamilisir sekecil mungkin.

Hubungan yang baru tentu akan dirasa hangat-hangatnya, begitu juga antara gue, dan ‘dia’, hampir tiap hari gue Telpn dia, atau gak sms sesering mungkin. Sedangkan yang di Jakarta, bukannya diabaikan, atau terlupakan, cuma tetep berjalan sewajarnya aja. Gak kurang atau lebih. Semuanya, seolah tidak terjadi apa-apa. Hal yang kayak gini yang pernah di komplain sama ‘dia’, bahkan ‘dia’ sering nyuruh gue supaya malam mingguan nyamperin partnernya (begitu dia menyebut pacar gue di Jakarta), karena gue ama yang di Jakarta emang jarang banget buat malam mingguan.

Berhari-hari bahkan sampai berganti minggu, gue, ‘dia’, dan yang di Jakarta, menjalankan perselingkuhan ini.

Sampai suatu peristiwa itu datang, gue sakit, memang bukan sakit parah, tapi cukup membuat gue gak bisa melakukan aktifitas dengan baik dan benar. Dan, namanya pacar, pasti akan memberikan perhatian. Keduanya pun membaerikan perhatian yang sama, dan membuat gue merasa seperti menjadi lelaki paling berbahagia dunia. ‘dia’ dan yang di Jakarta memperhatikan gue lewat sms doang, tapi membuat gue cukup bersyukur.

Tapi dari sms semua sms yang pernah diberikan keduanya, ada satu yang membuat gue tertampar. Dan, sms itu dari cewek gue yang di Jakarta. Dia bilang :

“ Ayo cepet sembuh..Ini gak ada apa-apanya, saat kamu jatuh dulu “

Seketika pikiran gue berlari pada beberapa tahun yang lalu, saat gue kenal cewek gue yang di Jakarta itu, saat gue bener-bener terpuruk, dia yang membangkitkan gue, saat gue membutuhkan penopang hidup, dia rela tanggalkan semuannya buat menjadi topangan hidup gue yang memang waktu itu pada titik terendah.

“ Gue ini lelaki macam apa ? “

“ Loe emang Big Loser yo”

“ Pengkhianat macam apa loe ini ? “

Pertanyaan-pertanyaan itu terus bergelayut di benak gue. Gue teramat bersalah pada cewek gue yang di Jakarta itu. Gue seperti ‘membalas susu dengan air tuba’. Gue ini pengkhianat paling jahat..

Malamnya, saat selesai gue bersimpuh pada Sang Raja Manusia, gue menelpon ‘dia’ kembali.

“ Kalau ada yang udah nolongin kamu. Dan orang itu mengkhianati kamu. Reaksi kamu apa “ tanya gue membuka pembicaraan lewat Telp tersebut.

“ Ya jelas, aku akan marahlah. Udah tolongin malah nusuk dari belakang “

“ Hmm…” gue mencoba menghela napas “ Dan itu yang terjadi sama aku saat ini “

“ Maksudnya? “ tanya ‘dia’ dengan nada kebingungan.

“ Ya, kalau aku jalan bertiga kayak gini, sama aja aku khinatin partnermu, nusuk dia dari belakang “

Gue dan ‘dia’ terdiam, diam lama sekali.

Malam itu, seolah menjadi panas sekali.

“ Sekarang keputusan ada di tangan kamu..semua yang putuskan kamu”.

“ Aku mau jalan betiga, tapi sampai kapan akan terus begini. Aku juga kasihan sama kamu. Jangan berharap terbang tinggi sama aku. Karena sayap aku bukan sayap malaikat. Yang mudah lebur, tertiup angin “.

Dia terdiam..Gue lanjutin pembicaraan

“ Jadi aku yakin kamu bisa dapat yang lebih baik, kita berteman saja “

“ OKey, kalau kamu milih yang di Jakarta, tapi jangan harap aku bisa jadi teman kamu “ ujarnya dengan nada tinggi.

“ kenapa ? “

“ Karena gak akan semudah itu. Kamu tahu aku sayang banget sama kamu. Bagiku, kamu hanya mantan, dan gak bisa dijadiin teman, sahabat atau apalah. Kamu tahu sulit bagiku lupain semuannya “.

Bagai pisau yang tertunjup di ulu hati, omongan ‘dia’ begitu sakit, namun gue tahu persaan dia saat itu. Namun, gue juga punya prinsip jangan sampai gue punya musuh dikemudian hari.

Dan saat itu, gue mengalah, gue gak mau kita sampai sama-sama panas. HP gue tutup, dan mencoba tidak menghubunginya sementara waktu.

Gue sedikit lega. Atas keputusan ke tiga kalinya yang gue ambil ini.

Namun apa gue akan terus membina permusuhan dengan ‘dia’?

‘dia’ gak bisa lupain gue semudah itu. Oh, Tuhan, jangan buat hati ini bimbang lagi ?

Masih salahkah keputusan ini.

*Untuk Yang Pernah Terekam di Memori Hati*

=To Be Continued=

==================================================================

KELUARGA BESAR SUSETYO PRIHADI

MENGUCAPKAN SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA

MOHON MAAF LAHIR& BATIN

MAAFKAN KALAU ADA SILAP KATA..

Label: ,

26 Agustus 2008

Aku, Kamu, dan Dia (Bayangan di jendela part 2)


Gue pernah ngomong sama ‘dia’, kalau apa yang kita jalanin ini ibarat sebuah buku, dan kita berdua adalah penulisnya. Mau nulis lucu, romantis, sedih, atau bahagia, kita semua yang nentuin. Dan saat itu gue tekenin bahwa, kita baru aja memulai Bab 1, apa saja bisa terjadi, walaupun ending buku itu harus pahit sekalipun.

Dan sayangnya gue gak pernah ngasih tahu sama dia, kalo judul Bab 1 yang kita buat adalah BOHONG. Yup, bohong tentang status gue, bohong tentang keadaan gue, dan berbohong terhadap kedua orang yang udah ngasih hatinya buat gue.

Tapi, gue gak pernah bohong kalo gue sayang juga sama dia, dan gue juga gak pernah bohong kalo gue gak pernah selingkuh sama cewek, kecuali sama ‘dia’. Gue emang bukan tipe yang suka selingkuh. Begitu prinsip gue selama ini, hati wanita bagi gue terlalu cantik dan halus buat di sakitin hatinya. Dan kalo dipikir juga gue gak pernah bohong-bohong amat, ‘dia’ gak pernah nanya gue dah punya cewek apa belom, kalo ‘dia’ nanya mungkin akan lain ceritanya.

Pandangan pertama, mungkin itu alasannya gue bisa jatuh hati sama dia, kenapa sampai nekat berada di jalan salah ini. Karena dari buku yang gue baca, Pandangan pertama yang penuh kelembutan merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk manarik hati dan membuat wanita merasa diperhatikan. Walaupun sebenarnya, gue gak merasa kayak gitu, mengalir aja.

Di Jakarta gue menjalankan aktifitas seperti biasanya. Dengan tambahan aktifitas tentunya, karena sekarang, yang gue perhatiin gak cuma satu orang, tapi dua, dan dua-duanya, apapun yang terjadi harus perhatikan secara adil.

Ya, walaupun kalo lagi males, gue pernah sms kayak gini :

“ Lagi ngapain yang ?, dimana ?, Jangan lupa makan ya “

Dan kirim ke ‘dia’ dan yang di Jakarta secara bersamaan. Lagi-lagi gue hanya bisa tersenyum kecut.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan gue makin terbiasa menjalani dua kehidupan yang berbeda. Tyo yang di pecundang, menjadi Tyo yang setia dan berasa pacar yang paling baik sedunia. (fiuh, gue makin bersalah saat nulis ini).

Metromini S62 jurusan Manggari-Pasar Minggu, jadi kendaraan yang paling setia nemenin gue kemanapun. Di pojok belakang, dekat jendela, gue biasa duduk, termenung, memikirkan apa yang aja yang udah gue lakuin hari ini, dan apa yang akan gue lakuin kedepannya.

Hari itu, tepat dimana gue pertama kali ketemu dengan ‘dia’, pertama kali gue ngeliat dia, dan pertama kali hati ini berbuat salah. Entahlah, malam itu persaan bersalah gue makin menjadi-jadi. Gue merasa semakin jauh perjalanan diteruskan, semakin dalam jug ague nyakitin orang. Gue HARUS BUAT KEPUTUSAN, ya harus!!.

Sudah, jadi kebiasaan gue kalo selesai beraktifitas, dengerin lagu, dari Radio kesayangan gue. Sambil terus berpikir, keputusan apa yang harus gue ambil, kapan gue ambil keputusan itu, dan blablanya. Entah kenapa, lagu Ahmad Band, AKU CINTA KAU DAN DIA, di putar di radio itu. Makin mantaplah gue untuk jujur.

Tust HP, gue cari namanya, ketemu, gue klik gambar telpone warna hijau, dan gue pun terhubung dengannya.

Klik

“ Halo” Jawab dia diujung suara sana.

“ Hmm, lagi ngapain ? “

“ Biasalah, nonton, dan makan “.

Dan pembicaraan pun berlanjut, kalau udah ngobrol sama dia, bisa lupa sama waktu, ada aja yang kita bicarain. Apalagi hobi kita sama, baca dan nonton, huh makin kenceng deh pulsa gue ke sedot.

Disaat obrolan kami sudah habis, gue pun mulai ngomong pelan-pelan, sedikit mendesah.

“ ada yang pengen aku omongin ke kamu “

Awalnya berat, namun lama-lama bisa, lancar juga…Setelah selesai apa yang gue ungkapin. Gue udah siap mendengar caci makinya, atau umpatannya. Tapi…

“ Oh ya udah kalo gitu “ ujar ‘dia’ standar tanpa ekspresi.

“ HAAH, cuma gitu doang ?”

“ Lah terus kamu mau aku kayak gimana? “

“ Ya kamu maki aku kek, bacok aku kek, atau kalo perlu cincang aku ampe kecil-kecil “

“ Ngapain juga cape-capein aja “.

Gue bener-bener kaget ama yang dia ucapin, sempat gue berpikir ‘dia’ lagi sakit.

“ Aku juga pernah diginiin, dan aku pikir buat apa juga dipusingin. Justru aku bangga ama loe.Udah mau jujur, itu yang aku hargain “

“Kamu emang bener-bener bikin aku salut, aku kagum ama kamu “ gue mulai terpana.

“ Mungkin ini yang namanya takdir, ya kita terima aja, dan jalanin “.

“ So”

“ Ya semua kepuusan ada di kamu lah, semua bola ada ditangan kamu “

Jleb.

Sebuah keputusan yang sulit harus gue hadapain lagi. Pendirian gue mulai goyah.

“ Emang kamu mau di duain ? “

“Kenapa gak? “

“ Dengan resiko yang kita bisa terjadi ? “

“ Setiap keputusan pasti ada resiko, dan aku siap kok jalan bertiga.”

Keringet dingin mulai mengucur di kepala gue.

“ Okey kita jalan bertiga “ akhirnya keputusan nekat yang gue ambil.

“ Tapi inget ya, aku mau kamu harus adil sama aku, dan dia “.

ADIL

Sebuah kata yang sederhana, namun berat untuk dikerjakan

Semoga gue bisa Adil.

Semoga gue bisa jalanin ini bertiga.

Tapi,

Apa yang hendak gue katakana sama cewek gue yang Di Jakarta ?


“Ah sudahlah, itu urusan nanti” gue membatin.

*Untuk Yang Pernah Terekam Di Memori Hati*

=To Be Continued=

Label: ,

21 Agustus 2008

Bayangan Di Jendela Itu...


Semberani. Gerbong 8. Kursi 4A.

Itulah Kereta yang akan membawa gue ke Kota Jakarta, tempat gue memulai segala aktifitas. Dari menuntut ilmu, sampai mencari sekadar sesuap nasi.

Gerbong tempat gue naiki nampak sudah terisi sebagian, dengan tas yang gue cangklong di pundak, gue mencoba mencari tempat duduk di kereta yang lumayan dingin karena AC tersebut. Cukup 10 menit bagi gue untuk dapatkan kursi yang itu.

Kursi dekat jendela, Hmm Favorit gue banget, dan persis disebelah gue seorang lelaki muda, kecil, sekiranya berumur 35 tahunan. Dan nampak gelisah memandang perempuan dan anak kecil di balik jendela keluar, bisa gue tebak itu anak dan istrinya, yang mungkin saja dia harus pergi meninggalkan mereka.

Terlihat juga di balik jendela yang tertutup rapat dan gelap, 3 orang yang mengantar gue ke Stasiun malam itu. Satu lelaki dan dua perempuan. Yang lelaki itu sahabat gue, Agung, perempuan keturunan Tionghoa yang digandeng Agung, itu pacarnya. Lalu, perempuan yang diapit diantara Agung dan pacarnya, itu adalah……..Ehm, lebih baik kita sebut saja ‘Dia’.

‘Dia’, perempuan yang baru gue kenal tersebut, belakang ini membuat hari-hari gue di tanah kelahiran seminggu lalu serasa begitu hidup. Obrolan kita dari yang serius hingga yang kacau, semuanya nyambung. Gue ngerasa seperti menemukan’sesuatu’ yang gue cari selama ini.

MP3 player yang ada di Handphone gue buka folder DEWA 19. Biarlah, si Ahmad Dhani dan Once, yang menemani perjalanan gue malam itu.

Gue lihat di bayangan jendela kereta itu, Agung sedang asyik mengobrol dengan pacarnya, dan ‘Dia’ memandang gue lekat-lekat seolah tidak rela atas kepergian gue.

“ Bagaimanapun juga loe harus bilang ama ‘dia’ kalo loe dah punya cewek “ pesan Agung, sesaat sebelum naik ke Kereta.

Kalimat yang membekas di kepala gue saat itu, gelisah, bingung, bercampur jadi satu. Mencoba menyelami makna cinta yang sedang gue jalanin, mencoba bersikap jujur sama apa yang terjadi. Dan lagu pertama dari Ahmad Dhani bersenandung di telinga gue.

Tak pernah kusangka jauh dari kamu membuat ku menderita..

Sejak pertama bertemu denganmu di negaramu yang indah…

Aku disini mengenangmu, meskipun aku tak lagi sendiri..

Apakah harus kutinggal kekasihku di Jakarta..(CINTAKU TERTINGGAL DI MALYSIA-Ahmad Dhani).

Setengah jam kemudian kereta ini berlahan jalan, meninggalkan Stasiun yang kecil dan kummel itu. Gue lihat semua orang melambaikan tangannya, pertanda perpisahan, termasuk ‘dia’. Sejenak gue diam, ‘dia’ gue tatap dalam-dalam sampai kereta ini menjauh, hilang, walau bayangannya di jendela tetap terlihat, mungkin sampai gue tiba di Ibukota nanti.

Tidak lama berselang, sebuah sms masuk..

“ Hati-hati di Jakarta..Shimly (See How Much I Love You)”.

Secara bersamaan Sms masuk lagi.

“ Udah di kereta ya…Cepat Sampai, Aku merindukanmu Di Jakarta “.

Gue hanya tersenyum..tersenyum kecut.

Apa Yang Harus gue lakuin ?

Haruskah Gue Jujur ?

Tuhan langkah ini salah, Hati ini berkecamuk.

Tolonglah Tuhan..Beri petunjukmu

Jalan yang benar..

Agar tak tersesat..

Di persimpang jalan..

Di jalanMU yang panjang (KULDESAK-Ahmad Band)

* Teruntuk Yang Pernah Terekam Di Memori Hati*

=To Be Continue=

Label: ,

16 Agustus 2008

Kisrah kisruh Rokok







Gue udah hampir 4 tahun belakangan berhenti nge rokok, alasanya sih sederhana, DUIT GUE HABIS buat beli sebungkus rokok doang. Padahal dulu gue termasuk perokok berat, 2 bungkus bisa buat 1 hari (termasuk dikit untuk golongan pecandu rokok).

Pertama kali ngerokok itu seingat gue terjadi saat masih duduk di kelas 6 SD. Gara-garanya sh, teman-teman gue yang udah duluan ngerokok, selalu manas-manasin gue buat ngerokok, alasanya sih klise “ Kalo gak ngerokok gak gaul “, “ Kalo gak ngerokok gak jantan “, “ Kalo gak ngerokok kayak bencong “. Untuk alasan yang terakhir gue sadarin itu salah besar, setelah gue tahu bencong yang sering mangkal di perempatan dekat rumah gue JUGA NGEROKOK.

Saat ini, ada heboh-heboh berita tentang FATWA MUI tentang rokok itu haram. Mungkin bagi sebagian kalangan ini cuma angina lalu aja, atau sedikit bergumam “ Ah cuma fatwa kok “.

Tapi menurut gue ini penting banget. Pasalnya, saat ini ruang terbuka bagi yang tidak merokok sangat sempit sekali, coba cari tempat mana yang gak ada orang gak Ngerokok. Mulai dari terminal. Sampai tempat ibadah pasti penuh dengan orang yang ‘membakar’ uangnya tersebut. Gue sampai mikir, Indonesia ini kayak asbak terbesar di dunia.

Tapi, masalahnya adalah banyak orang ketakutan kalau Fatwa ini jadi dikeluarkan, maka banyak lapangan pekerjaan di tutup, pabrik rokok sudah tidak mampu beroperasi lagi karena omzet rokok menurun drastis.

Hello, come on!!. Sampai kapan kita harus bergantung pada akar lapuk terus ?, sekarang loe bayangin, hampir semua bagian di negara ini dibiayai oleh perusahan rokok tersebut, olahraga, pendidikan, seni, agama, Iptek. Dan semua pasti setuju apapun yang kita bangun dengan fondasi yang lemah, akan hancur dengan sendirinya.

Namun sayang, ternyata MUI sendiri tidak solid dalam mengeluarkan fatwa ini. Seperti yang terjadi di Kediri (yang notabenenya kota penghasil rokok) berikut ini, MUI di kota tersebut menolak Fatwa MUI pusat tentang rokok itu haram. Mereka berdalih bahwa rokok masih ke dalam kategori Makruh. Lah, padahal justru yang makruh itu sebaiiikkknnyyyaaa ditinggalkan, karena jelas sifatnya berbahaya, dan membuat kecanduan.

Samalah kayak misalnya bapak kita yang alergi sama jeroan, karena kalo dia makan, akan menimbulkan penyakit. Begitu juga dengan Rokok, jika kita memakainnya akan menimbulkan penyakit.

Pada akhirnya semua kembali ke kita juga sih, gimana mau menyikapinya. Toh, Fatwa ini cuma anjuran, mau diikuti ya monggo, enggak ya kebangetan.

Hah sudahlah, kok jadi merancau gini. 

Label: ,

7 Agustus 2008

Review Buku MOTHER KEDER:Emak Ku Ajaib Bener

Apa yang ada dipikiran loe kalo seorang mantan Finalis Puteri Indonesia membuat sebuah buku ?

Mungkin yang ada di benak kalian adalah, buku itu akan penuh unsur pendidikan, serius, dan jauh terkesan dari kesan becanda. Apalagi menginggat rata-rata jika ada seseorang yang lolos suatu ajang kecantikan pasti bukan orang sembarangan, alias pintar-pintar.

Tapi ini TIDAK BERLAKU bagi Viyanthi Silvana yang akrab dipanggil Vivi, mantan Finalis Puteri Indonesia Tahun 2001. Bukunya yang berjudul “ MOTHER KEDER:Emakku ajaib bener” membuat kita terperanjat, bagaimana mungkin seorang Puteri bisa melepaskan titlenya dan menulis buku humor dengan guyonan gila-gilaan tanpa harus menjaga Imagenya sebagai seorang Putri.

Buku ini menceritakan bagaimana kehidupan nyata Vivi yang tinggal dengan kedua orangtua dan ketiga adiknya yang menurut Vivi sangatlah tidak normal, terutama Maminya yang selalu bertingkah aneh bin ajaib. Dan terkadang tidak bisa dipikir nalar sehat.hehehehe.

Saat kita buka halaman pertama saja, kita sudah dibuatnya tertawa. Ketika komentar teman-teman terdekat Vivi menanggapi bukunya tersebut dengan pujian, namun sang Mami malah menggapinya dengan heboh “ KAKAAAK ….INI APAAN ?, KALO NANTI MAMI JADI TENAR GIMANA ? ADUUUHHH MAMI BELUM SIAP JADI ORANG TERKENAL NIHH!!! ENTAR MASUK INFOTAIMENT GAK ?”…..See ?, benerkan.

Baca buku ini juga mungkin mengingatkan tentang sebagian orang tua kita yang tidak ingin ketinggalan zaman namun sayang umur tidak bisa dilawan. Mami Vivi pun begitu biar dikata sering pergi ke Luar Negeri, namun ke-naif-annya yang tidak bisa membedakan antara Merek “ Addidas “ dengan “ Nu Arripal (Nu Arrival) “ yang tentu saja membuat gelak tawa kita pecah.

Ada satu lagi kebiasaan yang mungkin hampir dimiliki semua wanita di dunia yaitu DOYAN NGOBROL. Tapi, bukan Mami Vivi namanya kalo tidak buat yang heboh, karena kebiasaan ngobrol sang Mami sudah mengalami tahap akut. Bayangkan saja, Mami Vivid lam buku ini diceritakan suka mengobrol dari pagi hingga malam, dari melek mata sampai tutup mata lagi, gak peduli dimanapun berada, bahkan di Kamar Mandi sekalipun. Iya, suer, di kamar mandi. Ajaib kan?

Namun kita gak perlu takut dengan gaya bahasanya, kita tetap disuguhkan gaya penulisan yang tidak biasa, namun tidak terkesan asal-asalan. Bahkan, pertanyaan seperti “ bagaimana dengan kalian ? “, atau “ Ada ide yang lain ? “ membuat kita seolah-olah diajak berinteraksi. Layaknya membaca sebuaah diari, jalan cerita di buku ini tidak bertele-tele, lancar mengalir, dan gampang dimengerti.

Sayangnya di buku ini kita kurang mendapat klimaksnya. Di awal-awal bab, kita telah puas di buat tertawa terbahak-bahak, namun sayang ketika sudah mencapai tengah bab kita terasa bosan, dan sudah bisa menebak apa yang terjadi. Kritikan buat sang penulis komposisi cerita untuk tiap babnya harus diperhatikan.

Satu hal yang pasti, buku ini mengajarkan kita, seajaib-ajaibnya orangtua, secuek-cueknya orangtua, mereka tetap care sama kita, sampai kapanpun bahkan sampai kita sudah berumur, bahkan berkeluarga sekalipun.

Penasaran, makanya beli buku ini. Dijamin anda tertawa sepuas-puasnya.

Sang Penulis:Vivi dan Kacungnya yang tampan..Wehehehe


Cipak-Cipok:Tanda tangan. Sayang Cipak-cipoknya hanya di buku.

Label: ,

4 Agustus 2008

Kopdar Itu Masih Berlanjut (Bidadari turun di Toko Buku)

Sebelum gue masuk ke cerita pada postingan hari ini, gue mau sedikit kasih info. Gue baru aja dapet Award dari Achie si Wanita Perkasa. Wah gue gak nyangka *sambil ngusap air mata*. Achiee ya (baca:makasih ya).

gue mau dedikasiin award ini buat Kedua Orang tua, adik-adik gue, temen-temen Blogger, anak-anak geng Pamulang, sohib-sohib di Usahid, dan…., eh tunggu-tunggu ini bukan award buat piala Citra. Sepertinya terlalu berlebihan deh.

Ya udah kita mulai aja …

1. Put the logo on your blog

2. Add a link to the person who awarded you

3. Nominate at least 7 other blog

4. Add links to those blog on yours

5. Leave a message for your nominees on their blogs.

Wah agak berat juga ya ngasih 7 lagi. Karena semua blog menurut gue keren-keren dan bagus-bagus.But, show must go on, gue tetap harus milih 7 yang berhak dikasih award ini. Chek this out…

  1. Don Danang. Sohib gue di kampus, dengan tulisan briliannya.
  2. Emon. dengan kenarsisannya tapi tetap ceria dengan duniannya.
  3. Bochiel. No Comment buat orang ini.
  4. Roy sang katak. Walaupun dia udah menghasilkan Buku, tetap gak sombong.
  5. Paams. Si anak SMP yang sedang mencoba mencari jati diri.
  6. Hani. Si ibu yang setia dengan idealismenya, tapi gak mau di bilang cewek romatis.
  7. Ucii Autish.Ini lagi, cewek yang doyan jalan-jalan dan suka heboh sendiri kalo liat cowok cakep.

***

Oke lanjut, Hari Minggu kemarin (3/8/2008) gue janjian sama Bung Roy, untuk lihat Talk Shownya Ferdiriva penulis Cado-Cado (Catatan Dodol Calon Dokter) di Citraland. Sekalian gue mau minta tanda tangannya Roy.Hehehehehe.

Sebenarnya nama Citraland, seperti gak asing buat gue, nama yang sering terdengar di tiap mimpi, dan mandi ku..Huhuhuhu .Jadi, gue PD aja naik bus yang jurusannya ke arah Grogol. Karena bagi gue semua Bus yang ke arah Grogol pasti lewat Citraland.

Di daerah sekitar Grogol, sang kernet bus udah teriak “ Mal-mal..Mal-Mal”.

Gue dengan segenap jiwa turun dari Bus itu. Melangkah dengan pasti ke Mal yang gue tuju tersebut. Sampai di depan gerbang Mal, gue terhenyak setelah ada papan dengan gedenya nulis “ MAL CIPUTRA “..mampus loe.

HP pun gue keluarin dan segeralah gue tulis pesan singkat ke Roy

Roy, gue dah di TKP nih. Loe dimana?.BTW,Citraland ama Mal Ciputra sama gak sih?

Dan Roy pun membalas

“Gue OTW,plng jam 2pas gue dah disana.Eh,pulsa gue tinggal terakhir.Nanti loe telp gue kalo dah jam 2an”.

WEW..Mampus lagi loe yo!!.

Tapi untunglah, setelah gue telp si Nina (si Nina selain kamus berjalan juga peta berjalan bagi gue) gue baru yakin kalo gue di tempat yang benar.

Gak lama setelah gue nunggu, si Roy datang, dan satu hal yang pasti kalo gue ketemu di Kopdaran, pertama kali yang gue lakuin adalah memandangi dia dari ujung kaki sampe ujung rambut terus bilang “ Oh Roy, kamu kok ganteng banget sih. Cucok deh ike “.(abis itu gue pun menjadi the next Ryan Wehehehe).

Gue ama Roy pun mengikuti TSnya Bang Ferdi. Setelah presantasi, tibalah sesi tanya-jawab. Tiba-tiba, ada kakek dengan PDnya mengacungkan tangan.

“ Oh bapak mau bertanya…silahkan ” tawar si MC TS tersebut.

“ Jadi gini pak… “ Kakek itu bertanya serius.

Penonton hening.

“Jadi gini pak..akhir-akhir ini katarak saya kok makin parah”

*GUBRAAAK*

Rupa-rupanya si Kakek itu melihat tulisan “ calon dokter” di spanduk TS, diapun menyangka ini adalah TS tentang dunia kedokteran. Sungguh kasihan kakek itu.

Di tengah-tengah acara, kita melihat sesosok wanita cantik, memakai baju hijau, dan terdiam memojok di ujung salah satu stand buku. Siapakah dia ?, Bidadarikah dia ?

Oh ya, walaupun gue gak menang kuis review The Maling Of Kolor, gue tetap mandapatkan kaos dari Roy, sebagai pembaca tertampan...Thaks A lot Roy


Roy & Ferdiriva:Aneh, sesama penulis minta tanda tangan.


Searah jarum jam: Baju Kolor, Buku Kolor, Kumpulan kolor gue.


Buku dan kaos : Akhirnya mereka dipertemukan juga.



Dan......................................


Siapakah dia ? pacar Tyo kah ? Bidadari kah ?

Nantikan di Postingan selanjutnya...

=To Be Continue=


Label: , ,

Siapa Sih Lo...
Foto Saya
Nama: Susetyo prihadi
Lokasi: jakarta, jakarta selatan, Indonesia

Saya..Pemuda yang beranjak 17 tahun..Gak Percaya? Cek aja KTP saya...


Chat to me


Contact

E-mail :Manusiabelet@yahoo.com
FS Gaptek
IM:Tyo_saksi@yahoo.com

 


Catatan Gw Yang Terbaru

Tyo dan Dunia Sekitarnya
  • Desember 2007
  • Januari 2008
  • Februari 2008
  • Maret 2008
  • April 2008
  • Mei 2008
  • Juni 2008
  • Juli 2008
  • Agustus 2008
  • September 2008
  • Oktober 2008
  • November 2008
  • Desember 2008
  • Januari 2009
  • Februari 2009
  • Maret 2009
  • April 2009
  • September 2009
  • Posting Saat Ini

  • Plurk Tyo



    Hinalah Aku



    Mampir-mampir juga ke
    Aca Aja
    Benazio
    Boditea
    Danang
    My Boss
    Adekezia
    Bajay Gaul
    Bani Teramat biasa
    Cumi cungkring
    Dimas gak keren
    Kampung Bisnis
    Ke Nezz
    manusia Juli
    Meisha
    Marlina si Vanila
    Mellovegood
    Ms Dudul
    Nia Collorfull
    Raja Upil
    Rival Blog
    Anak Patung pancoran
    Risa yang katanya Cadel
    Ridu blog
    si buntel
    sumber bagi juve mania
    Tomat pitak
    dimas novri
    Zeta blogcomic
    zonanya Bociel
    Ayu Hanafiah
    Ika-hardy
    Ipied Gokil
    paams blog
    popok bekas
    Phiee Blog
    smaragdina
    Harry-dunia maya
    angga angelina
    Maroon sanctuary
    Qempes makan pepes
    dede fortinmart
    Om Tando-wi-yahya
    Mrs Anna blog
    Slugger
    Unni Hyori penguasa 4 bahasa
    Boim LeBon
    Puzzy
    Orang Plinplan NRL
    Nico Wijaya
    Qyusha Ha..ha.ha
    Roy Si Katak
    Tante Nindya
    T C
    Raka Sunny
    Mike
    Amaterasu
    Beruang Gila
    Perih Cahaya
    Aisha
    Aluna kantong ajaib
    Isma
    Nia rama
    The Amstrong
    Ahead
    Weni na aca
    Elric Sister
    presyprezl
    ecangcut
    chiee si wanita perkasa
    Nana Blog
    Gytha Cireng
    Agrit
    MAudi yg senang ditabok
    Unee
    Chal The Kotak surat man
    Aii Imoet (yakin?)
    Uchi Autish
    BAniDotCom
    Tante eucalyptus
    The Pokari team
    Sapi Bunting
    Shabrina
    Shiinn
    The Pokari team
    renal
    Mas Antown
    Lyn
    Catatan Si Bebek
    Raida Zona Teknologi
    Adhini
    FiZI
    Maryah
    dee Adp
    ahmad kadalisme
    The Story Of Adya
    Natan natan
    Alya Ajah
    Catatan Kodok
    Inda bukan Indah
    Jovie
    Baby Pianist
    Shely Blog
    Yuni Blog
    Vian Blog
    Shinta Lutung
    Adhie132
    Budiero
    Kiki perempuan Iseng
    Oktasihotang
    Lyuth Blog
    Alia Blog
    Kita Blog Bali(adhi & Satria)
    Mama Dio (gadis beranak satu)


    Komen yang udah-udah
    Ini adalah blog yang membuat anda menyesal datang ke sini