Febuari = Rahmat Terindah
Gue pernah denger penggelan dialog di Film Cinta Silver, yang diucapain sama sepupu gue Christian Sugiona *tendang tyoo* " Kalau kita sendiri, bukan disaat sedihnya yang kita rasain. Tapi, pas gembiranya. Karena, disitu loe gak bisa berbagi disaat senang,"
Dan emang benar, hidup sendiri itu pait, sepahit kopi pagi yang gak dikasih gula, dan loe harus minum pas bangun tidur (Karena gue berpikir, antara sampah mulut harus beradu dengan ampas kopi). Coba bayangin, saat loe pulang kerja, dirumah loe gak ada sapa-sapa yang mesti dibagi cerita. Mulai dari yang gembira, sampai yang sedih.
Rutinitas itu gue alamin terus menerus. Berangkat kerja, gak ada orang. Pulang kerja, gak ada orang. Ah, hidup macam apa itu. sepi. Ngenes.
"kayaknya gue harus punya pendamping hidup nih," batin gue galau.
Bukan pilihan yang mudah, ketika gue harus mengambil anak orang sebagai istri. Banyak yang harus dilakukan ketika tanggung jawab terbesar itu harus diambil. Tapi.......
Gue harus maju, harus bisa. Gue udah cukup mampu, ngasih makan anak orang, walupun seadaanya (Ini menilik pada pertanyaan setiap orang yang mau menikah muda, "Mau kasih makan apa anak orang,").
Semoga, akhir Febuari ini menjadi awal langkah itu. Gue gak tahu, apa yang terjadi nanti. Tapi, harus gue lakuin. Ya, Febuari ini semoga menjadi rahmat terindah buat gue dan dia.
Amien
Sumpah, gue lagi gak merancau
Salam Tyo Gaptek
Label: cerita cinta, febuari, rahmat terindah




