Kambing Jantan The Movie; Ketika Cinta Banyak Dilema.

Film ini coba mengangkat kehidupan mahasiswa yang kuliah di luar negeri. Seperti pada film remaja pada umumnya, pencarian jati diri dengan bumbu-bumbu romantis yang terkadang konyol, menjadi sajian utama di film ini.
Kisahnya dimulai dari seorang pemuda bernama Dika (Raditya Dika) alias Kambingjantan yang baru saja lulus dari sekolah menengah atas (SMA). Seperti pada lulusan SMA lainnya, Dika pun memutuskan untuk melanjutkan jenjang pendidikan tinggi. Setelah "dipaksa" ibunya, Dika memilih kuliah jurusan keuangan di Adelaide, Australia.
Di sinilah masalah muncul. Dika yang mempunyai pacar bernama Kebo (Herfiza Novianti), sebutan sayang Dika ke kekasihnya itu, harus menjalani hubungan jarak jauh alias long distance relationship (LDR).
Cerita bergulir. Dika yang mulai menjalani hidup perantauan di negara orang, mulai banyak menemui kendala. Mulai LDR-nya dengan si Kebo, yang membutuhkan banyak biaya, sampai kuliahnya yang tidak pas dengan bakatnya.
Beruntung, Dika bertemu dengan teman sekelasnya yang juga berasal dari Indonesia, Harianto (Edric Tjandra). Persahabatan mereka makin lengket, karena keduanya mempunyai masalah yang sama: Hubungan pacar jarak jauh dan kesulitan menerima pelajaran dari dosen yang lebih mirip tentara, Sally Dickson.
Masalah semakin rumit ketika Dika bertemu dengan Ine (Sarah Shafitri), cinta pertamanya waktu sekolah dasar (SD). Pertemuan yang tidak disengaja itu membangkitkan lagi benih-benih cinta di antara keduanya. Terlebih jalinan asmara antara Dika dan Kebo juga mengalami titik jenuh. Ini yang membuat Dika mengambil keputusan salah, dengan menduakan Kebo. Meski cuma hubungan tanpa status dengan Ine, namun Kebo dapat mencium hubungan itu. Dika pun mengalami dilema besar dalam hidupnya.
Meski bercerita tentang percintaan antra Dika dengan Kebo, film ini juga dibumbui joke-joke segar dan cerdas ala Woody Allen.
Rudi Soejardwo sukses membimbing Dika yang baru kali ini terjun ke dunia seni peran. Terlebih, muka Raditya Dika yang absurd, membuka film ini segar, tanpa guyonan menyerang fisik, ataupun lawakan ala slapstick.
Sayangya, antara film dan buku ini berbeda sangat jauh. Dika yang terkenal dengan cerita di bukunya yang lucu, dengan gaya hiperbolik, tidak ditemui di film ini. Saat okezone menonton film ini, penonton yang duduk di samping dan merupakan penggemar buku karya Dika nampak kecewa berat.
"Ah kenapa filmnya jadi romantis. Lucunya juga sedikit banget," ungkapnya kecewa.
Pun demikian yang belum membaca buku. Banyak dari mereka yang mengernyitkan dahi atas jokes di film ini, yang mungkin terlalu "berat". Sang sutradara juga kurang spesifik dan kurang banyak menampillkan setting Kota Adelaide.
Meski begitu, secara keseluruhan film ini sangat pantas untuk Anda tonton. Karena, Kambingjantan The Movie menawarkan genre romantis komedi yang baru.
* Tulisan Nista ini sengaja dimuat di okezone, agar semakin banyak orang kehilangan akal sehatnya
(Foto: Diambil dari CitaCinta edisi 10 - 24 September 2008)
5 Komentar:
whoi mak tyo gaptek....gue blm nontn kmbng jantan, secara baru tiba di jakarta, maklum baru dari hutan!!
ntr dech gue tonton, gmn sech akting mas dika, bagus nggak? katanya bagus bangt lho!!
Mendingan baca bukunya, kalo di bioskop gag bisa ngakak. Jaim saia :p
mau nahan ketawa malah kayak kambing kejepit
wah jadi ragu mau nonton nih kayaknya... hihhihi!!
hmm..
jadi penasaran hehehe
menambah alasan buat gw untuk tidak menontonnya. hehe.
Posting Komentar
Siapun boleh ngehina gw.Termasuk loe
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda