Pilon Stadium Tinggi
Salah satu penyakit yang belum bisa gue sembuhin dari dulu sampai sekarang adalah, teledor dan pelupa. Seperti kanker yang terus menggerogot, penyakit gue ini kok makin hari makin parah. Apalagi, hal-hal yang sifatnya sepele. Contoh yang sederhana, kartu parkir. Iya kartu parkir, yang dimana-mana kartu parkir selalu dibuat dalam bentuk kecil dan tipis. Dan sejujurnya, kartu parkir ini selalu menjadi kendala tersendiri bagi gue, terutama dalam hal peliputan. Kayak beberapa pekan lalu, saat gue ngeliput di beberapa tempat. Waktu itu, gue ngeliput di tempat pertama, yang kebetulan adalah sebuah hotel di suatu daerah di bilangan Senayan. Karena gue kesiangan, maka setelah sampai di tempat tujuan gue langsung menaruh motor di tempat parkiran, dan mengambil kartu parkirnya dengan terburu-buru. Selesai acara, gue langsung balik ke tempat parkiran dengan tergopoh-gopoh, karena memang setelah di tempat pertama gue ada liputan di tempat selanjutnya, yang kebetulan mepet banget waktunya. Pake jaket (udah), pake penutup muka (udah), pake kacamata (udah), pake jaket (udah). Nah, setelah perlengkapan berkendara terpakai semua, gue meluncur ke tempat keluar. Pastinya doong, kalau mau keluar gue harus nunjukin kartu parkirnya, gue cek di kantong gak ada, gue cek di tas gak ada. Sempet gue berpikir kalau kartu parkirnya nyakut di lubang idung, tapi gue baru sadar kartu parkir itu gak sekecil upil. “Wah mbak, kartu parkirnya ilang,” ujar gue membuat kesimpulan kepada si tukang parkir. “Oh ya udah mas, bayar denda 10 ribu ama buat keterangan ilang ya?,” saran si petugas parkir, yang sekilas mirip Luna Maya dari samping, tapi pas diliat dari depan OhMy God, kok kayak Olga Syahputra (memang kurang jelas betul muka si petugas parkir itu, cantik atau lucu, semuanya samar) Alhasil, gue pun terpaksa mengikuti saran si petugas parkir. Sorenya, gue balik ke kantor. Disitu pun gue ambil kartu parkirnya. Tidak ingin mengulang kesalahan yang sama, gue pun menyimpan kartu parkir dengan sebaik-baiknya. Dan gue pun bersumpah akan menjaga kartu parkir itu, dengan sepenuh jiwa walaupun sampai titik darah penghabisan. MERDEKA!!!. Malam menjelang, gue pun harus balik ke rumah untuk istirahat. Gue pun ke tempat parkiran kantor yang memang jaraknya gak begitu jauh. Dalam perjalanan pulang, gue berpapasan dengan teman satu kantor yang kebetulan juga pulang mengendarai motor. Sampai ditempat parkiran, muka teman gue itu terlihat panik. Wow, ternyata dia mengalami kejadian yang paling tidak mengenakan bagi seorang pengendara motor. KARTU PARKIRNYA ILANG. “Makanya. Kalau naruh kartu parkir jangan sembarangan, bro,” kata gue menasehati dengan perasaan hati jumawa, sambil berujar dalam hati ‘mang enak’. Di tengah kegelisahannya itulah, gue terpaksa meninggalkan dirinya. Motor sudah siap dipacu untuk melaju. Di tempat parkiran, gue ambil kartu parkirnya. PEDE. Gue rogoh kantong, wah ADA. Makin PEDE. Kartu parkir itu segera gue serahkan kepada yang berwenang. Motor segera gue gas…Tapi, sepersekian detik kemudian si tukang parkir neriakin gue. “WOI MAS, KARTU PARKIRNYA SALAH. INI KARTU PARKIR GELORA BUNG KARNO,” *plok* Kartu parkir gue ilang lagi!!!!!! Label: gue, penyakit, pilon
Mundur Kebelakang
Pagi ini jam udah nunjukin jam 3 kurang. Gak tahu kenapa, tadi tiba-tiba kebangun aja, terus gak bisa tidur lagi. Tadinya sih biar bisa tidur lagi gue nonton sinetron. Tapi, bukannya ketiduran, gue malah melek terus..huhuhu. Ya udah, gue berselancar aja di dunia maya pake hape. Kebetulan juga partner gue di kantor ultah, jadi sekalian aja buka Facebook. Puas buka FB dan baca-baca berita di media online. Gue masih belum bisa tidur. Bingunglah gue, tadinya sih mau nonton bokep biar cepet tidur. huheeehheee becanda. Iseng-iseng gue buka blog gue tercinta. Setelah baca postingan terakhir, gue buka postingan di archive bulan pertama nyiptain blog ini. Dan ya ampun! Gue jadi ketawa-ketawa, senyum, merenung, dan sedih sendiri. Gue nyangka, kalau gue pernah ngalamain itu semua, sampai akhirnya bisa berdiiri disini, sekarang. Gue jadi bersyukur kalau blog ini bisa tercipta, dan bisa bertahan lebih dari setahun, walaupun itu bolong-bolong ngisinya. Blog ini sekarang bagaikan biografi perjalanan hidup gue sendiri, atau seperti album foto yang tak pernah lekang dimakan waktu, meski dibaca terus-menerus. Naik-turunnya hidup gue, semuannya terekam dan tertuang disini. Mungkin suatu saat blog ini akan jadi harta gue yang paling berharga. Soalnya, saat gue kangen masa lau, gue bisa baca blog ini. Saat gue jatuh, gue bisa bersyukur setelah gue baca blog ini. Nanti, ketika gue udah punya anak-cucu. hal pertama yang gue tunjukin adalah, blog ini. Biar mereka tahu tingkah ayah-kakeknya ajaib seperti ini. Gue juga punya angan-angan, saat tua nanti, gue bakal duduk di depan kompie beserta istri gue dan keturunan gue, untuk baca-baca blog ini...hiks, gue jadi sedih. Semoga blog dan pemiliknya bisa bertahan dan panjang umur selalu. amien. Seperti kata pepatah blogger lain, "Gajah mati ninggalin Gading, Harimau Mati ninggalin belangnya. Dan manusia mati ninggalin nama dan blognya" So, gue bersyukur punya kemampuan untuk menulis di blog..Bagaimana dengan kamu? Ah, mata gue sekarang dah segaris nh.. Tidur ah, sonsong masa depan. Label: blog, gak bisa tidur, masa lalu
Kambing Jantan The Movie; Ketika Cinta Banyak Dilema.
 Satu lagi film layar lebar yang diangkat dari blog dan buku best selling: Kambingjantan The Movie. Film terbaru besutan sutradara Rudi Soerjadwo yang coba menvisualisasikan buku komedi Kambingjantan: Sebuah Catatan Harian Bodoh yang merupakan karya Raditya Dika. Buku ini adalah diari kisah sehari-hari dari si penulis yang diambil dari blog. Film ini coba mengangkat kehidupan mahasiswa yang kuliah di luar negeri. Seperti pada film remaja pada umumnya, pencarian jati diri dengan bumbu-bumbu romantis yang terkadang konyol, menjadi sajian utama di film ini. Kisahnya dimulai dari seorang pemuda bernama Dika (Raditya Dika) alias Kambingjantan yang baru saja lulus dari sekolah menengah atas (SMA). Seperti pada lulusan SMA lainnya, Dika pun memutuskan untuk melanjutkan jenjang pendidikan tinggi. Setelah "dipaksa" ibunya, Dika memilih kuliah jurusan keuangan di Adelaide, Australia. Di sinilah masalah muncul. Dika yang mempunyai pacar bernama Kebo (Herfiza Novianti), sebutan sayang Dika ke kekasihnya itu, harus menjalani hubungan jarak jauh alias long distance relationship (LDR). Cerita bergulir. Dika yang mulai menjalani hidup perantauan di negara orang, mulai banyak menemui kendala. Mulai LDR-nya dengan si Kebo, yang membutuhkan banyak biaya, sampai kuliahnya yang tidak pas dengan bakatnya. Beruntung, Dika bertemu dengan teman sekelasnya yang juga berasal dari Indonesia, Harianto (Edric Tjandra). Persahabatan mereka makin lengket, karena keduanya mempunyai masalah yang sama: Hubungan pacar jarak jauh dan kesulitan menerima pelajaran dari dosen yang lebih mirip tentara, Sally Dickson. Masalah semakin rumit ketika Dika bertemu dengan Ine (Sarah Shafitri), cinta pertamanya waktu sekolah dasar (SD). Pertemuan yang tidak disengaja itu membangkitkan lagi benih-benih cinta di antara keduanya. Terlebih jalinan asmara antara Dika dan Kebo juga mengalami titik jenuh. Ini yang membuat Dika mengambil keputusan salah, dengan menduakan Kebo. Meski cuma hubungan tanpa status dengan Ine, namun Kebo dapat mencium hubungan itu. Dika pun mengalami dilema besar dalam hidupnya. Meski bercerita tentang percintaan antra Dika dengan Kebo, film ini juga dibumbui joke-joke segar dan cerdas ala Woody Allen. Rudi Soejardwo sukses membimbing Dika yang baru kali ini terjun ke dunia seni peran. Terlebih, muka Raditya Dika yang absurd, membuka film ini segar, tanpa guyonan menyerang fisik, ataupun lawakan ala slapstick. Sayangya, antara film dan buku ini berbeda sangat jauh. Dika yang terkenal dengan cerita di bukunya yang lucu, dengan gaya hiperbolik, tidak ditemui di film ini. Saat okezone menonton film ini, penonton yang duduk di samping dan merupakan penggemar buku karya Dika nampak kecewa berat. "Ah kenapa filmnya jadi romantis. Lucunya juga sedikit banget," ungkapnya kecewa. Pun demikian yang belum membaca buku. Banyak dari mereka yang mengernyitkan dahi atas jokes di film ini, yang mungkin terlalu "berat". Sang sutradara juga kurang spesifik dan kurang banyak menampillkan setting Kota Adelaide. Meski begitu, secara keseluruhan film ini sangat pantas untuk Anda tonton. Karena, Kambingjantan The Movie menawarkan genre romantis komedi yang baru. * Tulisan Nista ini sengaja dimuat di okezone, agar semakin banyak orang kehilangan akal sehatnya (Foto: Diambil dari CitaCinta edisi 10 - 24 September 2008) Label: film, kambing
Febuari = Rahmat Terindah
Gue pernah denger penggelan dialog di Film Cinta Silver, yang diucapain sama sepupu gue Christian Sugiona *tendang tyoo* " Kalau kita sendiri, bukan disaat sedihnya yang kita rasain. Tapi, pas gembiranya. Karena, disitu loe gak bisa berbagi disaat senang," Dan emang benar, hidup sendiri itu pait, sepahit kopi pagi yang gak dikasih gula, dan loe harus minum pas bangun tidur (Karena gue berpikir, antara sampah mulut harus beradu dengan ampas kopi). Coba bayangin, saat loe pulang kerja, dirumah loe gak ada sapa-sapa yang mesti dibagi cerita. Mulai dari yang gembira, sampai yang sedih. Rutinitas itu gue alamin terus menerus. Berangkat kerja, gak ada orang. Pulang kerja, gak ada orang. Ah, hidup macam apa itu. sepi. Ngenes. "kayaknya gue harus punya pendamping hidup nih," batin gue galau. Bukan pilihan yang mudah, ketika gue harus mengambil anak orang sebagai istri. Banyak yang harus dilakukan ketika tanggung jawab terbesar itu harus diambil. Tapi....... Gue harus maju, harus bisa. Gue udah cukup mampu, ngasih makan anak orang, walupun seadaanya (Ini menilik pada pertanyaan setiap orang yang mau menikah muda, "Mau kasih makan apa anak orang,"). Semoga, akhir Febuari ini menjadi awal langkah itu. Gue gak tahu, apa yang terjadi nanti. Tapi, harus gue lakuin. Ya, Febuari ini semoga menjadi rahmat terindah buat gue dan dia. Amien Sumpah, gue lagi gak merancau Salam Tyo Gaptek Label: cerita cinta, febuari, rahmat terindah
Kado Pahit Akhir tahun
Tahun 2009 telah datang tepat seminggu lalu. Namun, sebelum kembang api meletus dengan indahnya, atau tiupan terompet dengan pekiknya, sebagai pertanda bergantinya tahun. Tepat 31 Desember, sebelum waktu itu berganti, Indonesia dan dunia menerima kado yang teramat pahit. Dan inilah kado itu,   Label: 2009, israel bangsat, kado, pahit, tahun baru
|